Eggi Sudjana Meminta Polisi Periksa Ketum PSI Yang Tolak Perda Syariah

Eggi Sudjana Meminta Polisi Periksa Ketum PSI Yang Tolak Perda Syariah – Kuasa Hukum Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI) Eggi Sudjana memohon polisi menyebut saksi pakar berkenaan laporannya pada Ketum PSI Grace Natalie. Ia mengharap proses hukum gak berhenti selesai Grace diminta info.

“Bila sesuai dengan pengetahuan hukum tanggapannya gini itu tdk semata-mata dikontrol akan tetapi musti ada titel masalah sesuai dengan Perkap nomer 14 Tahun 2012 klausal 15 perihal titel masalah. Pun selain itu ada info pakar mesti dikontrol info pakar berkenaan pernyataan itu,” kata Eggi Sudjana kala dihubungi Kamis (22/11/2018).

Untuk saksi pakar itu, Eggi bakal menganjurkan beberapa nama pakar ke Polda Metro. Gak cuma saksi pakar, Eggi menjelaskan PPMI pun punyai saksi kenyataan yg siap berikan info ke pihak kepolisian.

“Mesti ada proses kelanjutan mesti cek saksi pakar serta saksi kenyataan dari PPMI selanjutnya baru titel masalah serta semua pihak hadir persis sama waktu perkara Ahok (Bekas Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama). Mesti dikontrol lewat cara proses yg benar,” papar Eggi.

Eggi pun menyikapi penyataan Grace yg sangat percaya dianya tdk mengerjakan tindak pidana dalam perkara itu. Menurut Eggi, Grace gak tahu bab hukum.

“Itukan ia tidak mengerti hukum. Bila ia mengerti hukum ia tak kan katakan pidato itu, ditambah lagi ada UU nomer 40 Tahun 2008 perihal penghilangan ras atau etnis atau diskriminatif itu mengenai pun UU itu. Lantaran di UU itu tdk bisa katakan perasaan permusuhan pada ras, SARA serta antargolongan,” tuturnya.

Ia memandang penyataan Grace yg menampik terdapatnya Perda Syariah itu sama juga menentang Pancasila serta UUD 1945. Lantaran, menurut Eggi, Perda Syariah serta perda-perda berbasiskan agama adalah turunan dari Pancasila sila pertama yg berbunyi ‘Ketuhanan yg Maha Esa’.

“Itu memberikan kembali ia tidak mengerti kembali bab Pancasila serta UUD 1945, sila pertama ini apakah, Ketuhanan yg Maha Esa. Sila kesatu ini punyai turunan ketentuan umpamanya melarang miras, melarang zina senantiasa dijadiin Perda ini menurut peraturan undang-undang kita dibenarkannya atau mungkin tidak sebab itu turun dari Pancasila. Pemikiran umum, itu tindakan dengan ngomong itu ia bukti menentang Pancasila. Barusan saya deskripsikan turunan dari sila pertama Tuhan itu yg namanya Allah itu punyai hukum, ialah hukum Islam, Injil pun dari Allah, itu segalanya dari Allah. Nah, ini dijadiin Perda Syariah ia tidak sepakat, ia menentang inikan menentang Pancasila dong,” jelas Eggi.

Grace Natalie sendiri udah diminta klarifikasi polisi bab gugatan ajaran kedengkian berkenaan Perda Syariah pada Kamis (22/11) barusan. Ia sangat percaya apakah yg diungkapkan dalam pidatonya bukan tindak pidana.

“Ini hari yaitu panggilan klarifikasi, jadi kami memaparkan materi pidato yg kami berikan pada HUT PSI tanggal 11 November jika itu sikap politik PSI. Barusan ada seputar 18 pertanyaan,” papar Grace di Unit Cyber Crime Kriminil Privat Polda Metro Jaya, Jalan Jendral Sudirman, Jakarta.

“Kami membawa bukti-bukti. Kami membawa tanda bukti berbentuk kajian-kajian akademis. Kami udah kita tandai manakah sisi-sisi yg punyai keterkaitan dengan pidato itu,” sambung Grace.

Awal mulanya, PPMI lewat kuasa hukum Eggi Sudjana memberikan laporan Grace Natalie berkenaan dengan pengakuan PSI menampik Perda Syariah. Grace dilaporkan atas pendapat mengerjakan ajaran kedengkian.

Eggi memberikan laporan Grace ke Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (16/11). Laporan itu tertuang dalam Laporan Polisi Nomer LP/B/1502/XI/2018/BARESKRIM.